• Selasa, 6 Desember 2022

Bapak Pluralisme, Gus Dur Sang Perekat Toleransi Di Indonesia

- Kamis, 19 Mei 2022 | 17:04 WIB
Gus Dur adalah pembela kalangan minoritas, pembela rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan oleh Orde Baru. Gus Dur perekat toleransi (Instagram@inisantri.id)
Gus Dur adalah pembela kalangan minoritas, pembela rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan oleh Orde Baru. Gus Dur perekat toleransi (Instagram@inisantri.id)

PANTURA TALK - K.H Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, siapa yang tidak mengenal beliau?, cucu dari ulama pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, K.H Hasyim Asy’ari. Gus Dur lahir dari pasangan K.H Wahid Hasyim dan Nyai Hj Solichah, Kakek dari jalur ibu adalah K.H Bisri Syansuri sosok yang sangat dihormati dan dicintai oleh kalangan Nahdliyin. Gus Dur adalah sosok yang sangat dikagumi dan dicintai oleh kalangan Nahdliyin pada khususnya dan Indonesia umumnya. Kiprahnya dalam perpolitikan Nasional tidak diragukan lagi, pernah menjabat sebagai Presiden RI ke 4, meskipun pada akhirnya Gus Dur dilengserkan oleh segelintir elite politik yang haus akan kekuasaan.


Berbicara Gus Dur, maka berbicara tentang kemanusiaan dan toleransi. Gus Dur terkenal dengan sebuah kalimatnya yaitu memanusiakan manusia. Gus Dur adalah pembela kalangan minoritas, pembela rakyat kecil yang selama ini termarjinalkan oleh Orde Baru. Gus Dur muncul disaat Indonesia sedang mengalami krisis kemanusiaan, krisis politik, dan krisis toleransi, sedang diambang perpecahan.

Gus Dur mengedepankan pluralisme atau kulturalisme, ini lah yang dipakai oleh bangsa ini dalam tradisi kebangsaan yaitu kebangsaan yang tidak merujuk pada hubungan darah, suku, agama, tetapi kesamaan visi, misi, nilai, dan perasaan senasib dan sepenanggungan.

Baca Juga: Sering Terlihat, Inilah Maksud dan Deskripsi Lengkap Komentar 'Kogi Rembatan Kogi' Pemain Malaysia di AFF 2020


Indonesia adalah negara yang multikultural, memiliki keanekaragaman suku, bangsa, budaya, dan agama. Seperti yang kita ketahui Islam di Indonesia adalah agama mayoritas. Islam di Indonesia disebarkan dengan cara damai tanpa adanya paksaan, melalui pendekatan budaya lokal, oleh para ulama yang kita kenal dengan Walisongo dan kemudian dilanjutkan oleh para santri-santrinya dan dilanjutkan oleh NU yang selalu konsisten dalam menyebarkan Islam yang Rahmatalill'alamin. Walisongo mengajarkan toleransi, misalnya Sunan Kudus, melarang masyarakat Kudus untuk menyembelih Sapi, untuk menghormati kalangan Hindu. Itulah salah satu bukti toleransi yang diajarkan oleh penyebar Islam di Nusantara. Islam di Indonesia disebarkan dengan jalan damai tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada paksaan.


Gus Dur adalah sosok perekat toleransi di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Walisongo adalah pionir toleransi di Indonesia, maka Gus Dur adalah perekat toleransi di Indonesia, mengumpulkan pecahan pecahan yang tercecer. Indonesia adalah ladang empuk bagi mereka yang mempunyai kepentingan dan agenda politik, dengan jumlah mayoritas Islam terbesar di dunia tentu ini adalah hal yang menggiurkan. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengadu domba antara kalangan Mayoritas dan Minoritas.


Gus Dur adalah sosok yang berani dalam membela kemanusiaan, meskipun dari kalangan mayoritas tapi Gus Dur dengan tegas membela kalangan minoritas, seperti membela Ahmadiyah Gus Dur pernah berkata “Selama Saya masih hidup, Saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah. Ngerti nggak ngerti, terserah!”. Toleransi bukan hanya mencakup soal agama, tetapi juga ada juga toleransi pemikiran, toleransi rasial, dan lain sebagainya. Jadi toleransi yang diperjuangkan oleh Gus Dur bukan hanya toleransi agama saja, tetapi juga mencakup seluruh toleransi. Sebagai contoh misalnya Gus Dur melakukan Pembelaan terhadap Inul Daratista di saat polemik goyang ngebornya.


Gus Dur adalah seorang pelahap buku, berbagai macam buku beliau baca, bukan hanya kitab kuning saja, dan ini jarang terjadi seorang putra Kyai, membaca buku-buku barat. Dan hal ini menandakan bahwa Gus Dur sudah diajarkan toleransi sejak kecil oleh ayahnya yaitu toleransi dalam ilmu pengetahuan. Sehingga Gus Dur berpandangan terbuka, memiliki wawasan yang luas, dan menerima perbedaan.


Perjuangan Gus Dur dalam memperjuangkan toleransi dilakukannya melalui organisasi besar Nahdlatul Ulama, Meskipun Gus Dur menjadi nahkoda organisasi Islam terbesar di Indonesia, tapi Gus Dur dekat dengan semua penganut agama lain. Di bawah kepemimpinannya pula Gus Dur menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam NU, itu merupakan bukti bahwa Gus Dur adalah sang perekat toleransi.

Halaman:

Editor: Firdaus Buchori

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Dulu Sebuah Gereja, Kini Menjadi Deretan Ruko

Kamis, 17 November 2022 | 01:44 WIB
X